Aspire P3 dan Thropy




“Hayooo!!” Gue kaget karena ada yang menepuk pundak gue. Ternyata Lilian, sahabat gue dari kecil sampai sekarang yang jahilnya nggak hilang-hilang.

“Apaan sih lo!! Bikin orang jantungan aja! Untung aja ini nggak jatuh!” Hardik gue sambil mengelus tablet yang baru gue beli beberapa minggu yang lalu. Lilian memajukan bibirnya tanda mengejek.
“Tau yang punya gadget baru,” Siriknya. Gue pura-pura nggak dengar meski semburat merah muda sudah muncul di pipi gue dengan senyum dikulum.

“Biar lama atau baru tetap aja sayang kalau jatuh,” Tegas gue.
  
Saat ini gue sedang membuat sebuah proyek. Perusahaan induk dari perusahaan tempat gue bekerja mengadakan kompetisi untuk membuat sebuah proyek periklanan baik untuk dipasarkan maupun kemajuan di dalam perusahaannya tempat bekerja. Tahun ini, divisi gue yang ikut kompetisi. Hadiahnya, perjalanan selama dua minggu ke perusahaan induk di Jerman dan ada pesangonnya serta kesempatan untuk dipromosikan sangat besar, baik di perusahaan sendiri maupun di perusahaan induk. Bagi perusahaan yang karyawannya jadi pemenang akan mendapatkan penghargaan dan itu masih rahasia. Kompetisi  ini diselenggarakan setiap dua tahun sekali, tapi dengan divisi yang berbeda-beda. Pemenangnya akan diumumkan lewat video streaming pada hari dan jam yang telah ditentukan, langsung dari perusahaan induk.

Dari dulu gue pengen ikut kompetisi itu dan tahun ini doa gue diijabah oleh Tuhan. Tentu aja persiapan gue harus matang, makanya dari kemaren gue sibuk bikin proyek ini. Dan lagi, proyek ini termasuk rahasia. Sebenarnya sih nggak rahasia, cuma nggak ada yang tahu gue ikut kompetisi ini. Gue nggak suka aja pamer gue ikut ini itu, takut karma.

Tapi,  daritadi Lilian sibuk merecoki denga pertanyaannya yang melebihi muatan kapal tanker, “Li, lo nggak punya kerjaan ya?? Sana gih!” Usir gue.

Tapi dia malah makin nempel “Nggak! makanya gue gangguin lo! Lo juga… hari libur malah sibuk kerjaan! Coba keluar gitu kek, sapa tau kecantol cowok cakep!” Ujarnya sewot.

“Ah otak lo isinya cowok mulu! Gue lagi ada proyek makanya harus selesai  tepat waktu,” Jelas gue.
Lilian menyerah dan duduk di seberang gue. Dia mengambil majalah fashion bulan lalu dan membolak-baliknya dengan wajah suntuk. 

Alih-alih pergi, dia mulai merecoki gue lagi, “Gadget yang lo pake apaan namanya?”

Aspire P3,” Jawab gue singkat dengan mata tetap tertuju pada layar tablet berukuran 11,6 inci tersebut.

“Oohh… yang Vernon itu ya,” Ucapnya sambil melirik kembali ke majalah tadi.

“Vernon?” Kepala gue tegak dan jidat gue mengkerut tanda nggak mengerti.

“Masa lu beli gadget-nya tapi nggak tau iklannya?” Tanya Lilian, heran.

“Kan gue langsung beli pas lagi ada pamerannya,” Jawab gue jujur.

“Dasar!” Lilian pun mulai menjelaskan dengan gayanya yang to the point, “Itu lo… asistennya DJ yang hidden passion-nya pengen banget jadi  DJ. Dia itu selalu dinomor duain. Nggak dianggaplah, kasarnya. Terus pas acara besar, si DJ-nya itu kenapa gitu, terus dia yang ambil alih. Yang ngurusin acara itu udah nyegat supaya dia nggak bikin tambah kacau, eh dianya malah nekat. Nah, dia muter musiknya pake gadget yang sama kaya elo dan akhirnya dia menyelamatkan acaranya gitu deh. Gue pribadi sih suka sama tuh iklan. Mendidik dan punya pesan mendalam yang bisa memotivasi orang. Jarang kan, ada iklan yang berkualitas,”

Mulut gue membentuk huruf O, “Sama dong kayak gue. Gue juga punya hidden passion dan gue bakal mewujudkannya pake Aspire P3 gue ini!” Senyum tiga jari mengembang sempurna diwajah gue.

“Paling juga hidden passion lo nikah muda,” Buru-buru gue melempar Lilian dengan bantal kursi dan dia berhasil menghindar.

“Emang gue kayak lo yang ngebet nikah!” Balas gue nggak kalah sengit. Dia hanya tersenyum pahit.

“Eh apa bagusnya tuh gadget?” Tanya Lilian penasaran yang dari tadi curi-curi pandang ke arah tablet gue.

Akhirnya ditanya juga! Dari tadi gue nggak sabar pengen menjelaskan bagusnya Spicer, nama panggilan gue buat Aspire P3, “Gadget ini pokoknya gue banget! Liat nih desainnya, ramping, simple, nggak ribet! Harganya oke punya! Fitur-fiturnya, jangan ditanya lagi!! Kameranya canggih, nggak lelet, jernih, tinggal swab sana sini. Semenjak ada Aspire P3, kerjaan gue jadi lebih gampang diselesaikan! Apalagi buat proyek gue kali ini,” Jawab gue seperti pidato menggugah semangat kemerdekaan dari Bung Tomo.

Lilian menaikkan sebelah alisnya dan terkekeh, “Lo kaya mbak-mbak nawarin produk hahaha… yang spesifik dong,” Pintanya lagi. Nah, kalau yang ini gue nggak bisa jelasin. Karena gue emang nggak bisa menjelaskan hal-hal yang rinci, apalagi yang berbau teknologi.

Tapi kok kerja di pemasaran? Karena itu mimpi gue sejak SMA dan sejauh ini gue bisa mengikuti arus pekerjaan gue, “Gue nggak bisa jelasin detilnya. Tapi percaya deh… gue aja sampai ketagihan,”

“Hahaha… iya deh gue percaya,”  Tawanya membahana di ruang tamu “Tapi omong-omong, proyek apaan yang lagi lo kerjain ini?”

“Ini proyek kompetisi. Lo tau, kan?” Lilian mengangguk, “Nah, gue bikin proyeknya dari mentah ampe presentasi, ya pakai Aspire P3 ini,”

“Oh, emang proyek lo gimana?” Lilian berusaha melihat apa yang sedang gue kerjakan tapi gue langsung menutup layarnya. Lilian langsung cemberut.
***
Tiba hari presentasi, gue sudah siap lahir batin. Bahkan baju yang gue pakai pun sudah gue beli jauh-jauh hari. Kalau mau berhasil harus total habis-habisan, ya kan? Seragam…oke, make up…oke, Oh ya! Spicer, hampir aja lupa. Setibanya di kantor, gue buru-buru merapikan diri. Padahal gue udah datang secepatnya gue bisa, tapi karena Jakarta macet, jadi hampir aja gue telat. 10 menit lagi presentasi dimulai.

Di ruangan tersebut sudah hadir para petinggi perusahaan-perusahaan cabang, termasuk bos gue. Di seberang gue ada layar besar dan CEO perusahaan induk nonton gue langsung lewat video streaming. Demam panggung? Jelas! Tapi gue harus bisa atasi ini, demi kemenangan yang sudah di depan mata. Optimis? Harus! Gue keluarin Spicer, dan dimulailah presentasi yang sangat panjang tersebut. Di luar ruangan, teman-teman gue pada sibuk mencari celah agar bisa melihat bagaimana keadaan didalam. Tentu aja mereka penasaran, wong baru tadi tahunya kalau gue ikut kompetisi. Hihihi.
***
Dua minggu berlalu sejak presentasi, gue nggak ada mendengar bocoran sedikit pun tentang siapa yang akan dipilih, bahkan kandidatnya saja nggak ada terdengar gemanya. Perusahaan induk memang tahu bagaimana caranya menjaga rahasia. Tapi gue sudah menyerahkan segalanya kepada Tuhan. Toh, gue udah berusaha semampu gue dan doa sudah gue panjatkan tiap hari.
 ***
Tibalah hari pengumumannya, gue dan teman-teman seprofesi meninggalkan pekerjaan sementara untuk mengetahui siapa yang terpilih. Pemenangnya ini akan diumumkan lewat video streaming, jadi semuanya bisa menyaksikan secara langsung lewat televisi-televisi yang sudah tersambung dengan internet yang disediakan dari perusahaan. Bos gue aja sampai bergabung sama divisi gue. Kemudian, dari layar televise muncul wajah CEO yang menyapa dan menyampaikan pidato pembukaannya. Gue merasa, beliau emang sengaja mengulur-ulur waktu pengumuman supaya makin penasaran.

Akhirnya, CEO mengumumkan nama yang terpilih menjadi pemenang, “…and congratulations to Trophi Malaya Ayu from…” gue langsung loncat-loncat kegirangan dan nggak mendengar lagi apa yang beliau katakan. Alhasil, ruangan divisi gue heboh seperti meneriakkan gol kepada tim Garuda yang berhasil menjebol gawang lawan. Bos menyelemati gue, begitu pula teman-teman divisi gue yang lain.

Berkat kerja keras, doa, persetujuan Tuhan, dan nggak lupa Spicer, Aspire P3 kesayangan, gue nggak bakal bisa meraih apa yang selama ini gue impikan. Bagi gue, ini adalah mimpi yang terwujud, bagi bos gue, perusahaanya bisa naik derajat, dan bagi teman-teman gue, kemenangan ini adalah traktiran. Memang ini bukan impian gue satu-satunya, tapi gue berhasil mewujudkan salah satunya.

Bersambung...

Comments

  1. Wahahaha lucu nih :D
    Kalo dijadiin satu pasti lebih bagus :)
    #SekedarSaran

    ReplyDelete
  2. wah pengalaman yang menarik, ditunggu visit backnya ya http://pengkarya.blogspot.com/2013/06/found-hidden-passion-bareng-acer.html

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Masih adakah Peduli itu?