Aspire P3 dan Mesan
Beberapa hari yang lalu, aku membeli Aspire P3 di gerai Acer di salah satu mall di kota Jakarta. Awalnya aku tertarik membeli yang lain, tapi setelah melihat iklan Acer tentang Vernon, aku jadi tertarik. Sekedar informasi, Vernon adalah asisten DJ Tiësto, DJ yang sangat terkenal, dan Vernon sendiri adalah orang yang dianggap bukan siapa-siapa. Suatu hari, sang DJ akan mengisi acara pesta yang meriah. Awalnya pesta tersebut berjalan lancar, tapi karena DJ Tiësto berbuat ulah, Vernon pun nekat menggantikan sang DJ. Si produser acara berusaha mencegatnya tapi gagal. Dia pun memainkan musik melalui Aspire P3 miliknya dan acara pun berhasil diselamatkan. Bagiku, iklan ini sangat memberi inspirasi, sederhana, dan tidak membosankan.
Melihat Vernon berhasil mewujudkan impiannya, aku pun tertarik
untuk membeli Aspire P3 untuk mewujudkan salah satu impianku. Beberapa hari
lagi, orang tuaku akan merayakan hari pernikahan mereka. Sebenarnya tidak
pernah dirayakan, tapi kali ini, aku pribadi ingin merayakan sebagai wujud bakti dan ungkapan rasa sayangku kepada mereka. Meskipun aku mengirimi mereka uang, barang-barang,
dan sebagainya, merayakan hari pernikahan mereka adalah salah satu yang ingin
kucapai dari semua impianku dan baru sekarang bisa diwujudkan. Mewujudkan impian itu butuh proses kan, teman? Aku pun sudah memutar
otakku untuk mendapatkan konsep untuk hari tersebut dan meminta saran adikku, tapi
belum juga menemukan yang pas.
Kurebahkan badanku di sofa. kulirik Aspire P3 dan kuambil.
Aku mulai menelusuri fitur-fiturnya satu-persatu. Kemudian konsep itu muncul!
Segera aku hubungi adikku untuk mempersiapkan apa saja yang dibutuhkan. Aku
agak heran, padahal hal ini sudah sering kulakukan tapi bisa terlewatkan
begitu
saja…
***
Tiga hari menjelang acara, aku dan adikku makin sibuk
merangkai acara dan mempersiapkan apa saja yang akan dibutuhkan disela kegiatan kami yang padat. Adikku masih SMA
dan dia sibuk untuk belajar lebih giat menjelang UAN sedangkan aku dikejar deadline kantor.
Karena aku bekerja di Singapura, aku harus menyelesaikannya hari ini. Kalau
tidak, jangan harap aku akan ada di Jakarta lima hari ke depan. Tapi untung
saja ada Aspire P3, urusan kantor jadi lebih mudah dan aku bisa berangkat besok
pagi.
***
Selama di pesawat menuju Jakarta, aku sibuk menggambar dengan
Aspire P3-ku ini. Menggambar, kemudian menghapusnya lagi. Begitu seterusnya. Aku
memang bekerja di salah satu perusahaan IT ternama di Singapore, tapi bakat
alamiku dari lahir adalah menggambar.
Jadi mengapa aku
tidak menjadi arsitek, atau hal-hal lain yang berurusan dengan seni menggambar?
Jawabannya sederhana. Karena aku suka menjajal hal-hal di luar kemampuanku. Aku
tidak suka belajar dan hidup di satu bidang. Aku suka untuk mencoba hal-hal
baru yang dipikiran orang adalah sebuah tindakan irasional yang buang-buang
waktu saja. Tapi bagiku tidak. Ini adalah caraku menikmati hidupku.
***
Sesampainya di Jakarta, aku tidak segera ke rumah orang
tuaku, melainkan menginap di hotel yang berjarak agak jauh dari rumah. Aku
memang sengaja tidak memberi tahu kepulanganku kali ini karena ingin memberikan
kejutan. Namanya kejutan ya harus menjadi ‘kejutan’, kan?
***
Hari yang dinantikan pun tiba. aku sudah menyiapkan rencana
ini matang-matang. Jadi, adikku merengek minta diajak jalan ke Ancol.
Awalnya orang tuaku curiga karena adikku sudah terlalu sering kesana dan minta
mereka menemaninya, padahal biasanya tidak mau ditemani. Karena bujukan maut
adikku dan 1001 macam alasan dikeluarkan, orang tuaku pun luluh jua. Ketika
mereka sudah pergi, aku segera meluncur ke rumah dengan mobil sewaan.
Untung saja ada Mang Toah dan Bi Sura yang membantuku, jadi
pekerjaan menata ruang pun bisa lebih cepat selesai. Ruang tamu kusulap menjadi
layaknya sebuah restoran bergaya tempo doeloe dengan ada sedikit wilayah untuk berdansa. Meja makan untuk
dua orang sudah tertata rapi di tengah ruangan. Di sekeliling ruangan kutaruh
bunga-bunga segar, terutama bunga lili putih kesukaan ibu. Pokoknya, semua
sudah tertata dengan apik. Tinggal memasang proyektor. Karena dinding ruang
tamu berwarna putih, jadi aku tidak perlu lagi memasang layar. Lampu sudah kumatikan dan tinggal
menunggu orang tua dan adikku pulang.
***
Jam 7 orang tuaku tiba dirumah. Adikku sudah bersungut-sungut begitu keluar dari mobil
karena kecapekan. Begitu ruang tamu dinyalakan, kami semua menyanyikan lagu Kemesraan
yang sangat disukai ibu dan bapak. Sontak orang tuaku kaget. Bapak tidak percaya
raga dan nyawaku ada di rumah sementara ibuku menitikkan air mata. Bapak menepuk-nepuk pundakku sambil tersenyum
lebar yang hampir tidak kelihatan karena kumis lebatnya sementara ibuku memeluk
erat-erat adikku. Cemberut yang tadi hinggap di wajah tirusnya sekarang hilang
entah kemana.
Bak seorang pelayan, aku mempersilahkan mereka dua duduk dan
memberikan mereka sebuah daftar menu. Setelah memesan menu, aku pura-pura ke
dapur sementara adikku dari balik dinding sudah menyiapkan makanannya di atas
sebuah kereta dorong yang biasa dipakai untuk menyajikan hidangan di
kamar-kamar hotel. Aku sengaja meminjamnya dari kawanku yang bekerja sebagai
manajer hotel bintang lima di Jakarta.
Sebelum santap-menyantap. Aku mempersembahkan keahlianku,
menggambar. Gambarku kali ini terinspirasi oleh menggambar di atas pasir.
Bedanya, aku menggunakan Aspire P3 sebagai medianya. Aku bercerita tentang
kedua orang tuaku yang lahir, bersekolah dan menikmati masa-masa remajanya
sampai bertemu, menikah, dan dikaruniai dua orang anak. Cerita ini berdasarkan
cerita-cerita ibu dan Bapakku yang sering menceritakan kisah hidupnya dulu.
Semua orang bertepuk tangan dan berganti dengan adikku yang
melakukan stand up comedy. Melucu adalah keahliannya dan kami sampai
tertawa terpingkal-pingkal. Disusul dengan Bi Sura dan Mang Toah yang
menyanyikan lagu keroncong. Kalau yang ini tidak termasuk rencana, tapi tidak apa.
Justru yang seperti ini malah menambah keakraban kami semua.
Setelah semuanya selesai menampilkan bakatnya, kami
mempersilakan mereka dua untuk menikmati waktu mereka. Tapi, bapak dan ibu
menolak. Mereka menyuruh kami berempat untuk bergabung. Alhasil, kami pun
menurut karena didorong oleh rasa lapar. Kami mengobrol sambil menyantap
hidangan. Bapak sempat menanyaiku
tentang calon istri dan aku menjawabnya belum ada. Ketika ditanya seperti itu,
pikiranku langsung tertuju pada wanita itu. Aku pertama kali bertemu dengannya
di salah satu café di Jakarta baru-baru ini, tapi aku belum mengenalnya lebih
jauh. Aku tidak mau bercerita lebih dalam, takut memberi harapan palsu kepada
orang tuaku dan diriku sendiri.
Kusingkirkan pikiran tentang calon istri dan
semacamnya jauh-jauh dan menikmati sisa malam ini.
Di akhir acara, aku biarkan mereka berdansa berdua.
Sementara di ruang tengah Bi Sura dan Mang Toha yang juga pasangan suami dan
istri ikut berdansa dengan gaya mereka sendiri. Sementara aku dan adikku,
tidur-tiduran di kursi taman belakang rumah sambil memandangi langit yang saat itu bulan purnama dan hanya ada sedikit bintang. Dia
sudah terlelap sementara aku masih terjaga. Bahagia? Tentu saja! Aku bisa
menyenangkan orang tuaku meski tidak seberapa. Aku bersyukur impianku kali ini terwujud dan
semoga diikuti oleh impian-impianku yang lain seperti… menikah.
Comments
Post a Comment