Aspire P3 dan Mesanthropy
DARI MATA
Yang gue suka dari café ini adalah suasananya yang nyaman, tenang, dan lagu-lagu yang diputar senada dengan selera musik gue. Café
ini nggak pernah terlalu ramai, tapi nggak juga pernah sepi dari pelanggannya. Gue
sendiri sampai hapal dengan orang-orang yang berkunjung ke café ini dan nggak jarang kami bercengkerama atau sekedar menyapa lewat senyuman atau lambaian
tangan.
Tempat yang paling gue suka adalah di pojok ruangan dekat
jendela besar yang ditulisi berbagai kalimat dengan bahasa-bahasa asing. Dari
sana, gue bisa lihat pejalan kaki, kendaraan yang lalu lalang dan lain-lain tanpa
harus merasa gue perhatikan. Tapi karena saat ini sedang diduduki oleh orang
lain, jadi gue milih untuk duduk di mini bar.
Di seberang gue ada barista yang
sedang sibuk membuat berbagai kopi
pesanan. Spicer pun gue keluarkan dan dimulailan petualangan menjelajah dunia maya. Satu persatu gue
geser halaman web yang menjual berbagai tas branded. Gue baru sadar
kalau ada orang di sebelah gue setelah memesan capuccino. Dia juga
memakai Aspire P3, persis sama kayak punya gue. Dia melirik tablet gue
dan tersenyum .
Gue pun tergelitik untuk menyapanya, “Baru ya, mas?” Pertanyaan
norak.
“Hmm… iya mbak, mbak sendiri?” Aahh!! Dia merespon! Berarti
pertanyaan gue nggak norak-norak amat.
“Dari pertama diluncurkan gue langsung beli…” Gue menyerocos tanpa
henti tentang Spicer, tablet Aspire P3 gue. Mulai dari pertama kali membelinya sampai sekarang. Dia pun hanya
mengangguk-angguk takzim diselingi dengan kata ‘oh ya’ atau ‘begitu’. Tapi gue
tetap lanjut.
“Saya baru pertama kali ini ketemu sama orang yang
terang-terangan kayak mbak,” Dibilang begitu, muka gue langsung merah. Salah
tingkah.
“Saya juga suka sama produk-produknya Acer. Terutama Aspire
p3 ini. Dari semua tablet yang pernah saya pakai, baru ini yang cocok sama saya,” Terangnya.
Kami pun mulai mengobrol tentang apa saja. Dimulai dari produk-produk
keluaran Acer dari zaman dulu sampai sekarang, peliharaan, otomotif, sampai
yang bersifat personal. Gue baru tahu
namanya Mesan. Dia bekerja di salah satu perusahaan asing di bidang IT terkemuka di Singapura. Dan
jabatannya juga cukup tinggi. Dia ke Jakarta karena mau merayakan hari jadi
pernikahan orang tuanya. Orangnya sih, kalem, supel, dan nyambung sama gue.
Baru kali ini gue ketemu sama cowok yang mau mendengarkan gue cerocosan sampai
dua jam! Teman –teman pria gue aja nggak betah dengerin gue sampai segitunya. Sesi terakhir pun berakhir dengan tukaran nomor handphone.
Dia pun pergi sementara gue baru mau minum capuccino yang sudah dingin
dari tadi.
***
Semenjak pertemuan di café itu, gue dan Mesan lebih sering
ngobrol. Entah itu chatting, sms-an, atau telepon. Spicer mendukung sekali! Kameranya yang jernih dan nggak lelet buat komunikasi kami makin luwes. Gue kira Mesan nggak mau berteman sama gue, tapi ternyata dia mau. Hebatnya, dia masih setia mendengarkan
cerita-cerita gue yang kadang diulang karena lupa atau terlalu senang tanpa tertidur!
Minggu depan dia
balik lagi ke Jakarta dan dia bilang mau ajakin gue jalan-jalan ala backpacker.
Gue sih senang banget! Urusan gue pegal atau rewel di jalan itu belakangan,
yang penting gue siapin baju yang sesuai dan
bisa bikin gue tetap cantik. Nggak mungkin kan, kita jalan-jalan keliling
Jakarta dengan kaki atau transportasi kota dengan gue yang pakai gaun ala
pesta?
***
Hari yang dinantikan telah tiba dan gue siap dengan
barang-barang gue! Mesan awalnya kaget melihat barang bawaan gue yang
sebegitu banyaknya. Jadi deh, gue bongkar sebagian. Dia yang bantuin gue
milah-milah barang mana yang gue sebenarnya butuh, mana yang nggak. Dia bilang
sudah sering keliling, makanya dia tau segala macam trik
backpaker dan lain-lain. Gue sih, manggut-manggut aja karena gue sudah percaya sama dia.
Asal tahu aja, gue bisa bedain mana orang yang mau berbuat jahat sama nggak,
dan Mesan termasuk yang kedua.
Setelah siap, mulailah perjalanan backpacker gue ala
Mesan. Gue mengunjungi berbagai tempat-tempat yang kelihatannya biasa tapi ternyata
punya nilai historis. Juga tempat-tempat yang indah banget kayak sunset di atas
gedung yang gue-lupa-namanya. Tapi sumpah keren abis! Nggak kalah sama di Bromo
atau di Borobudur! Mesan bilang dia sering ke gedung itu dan dia jarang nunjukin
tempat itu dan gue termasuk yang jarang tersebut. Sebenarnya gue ada
firasat-firasat gimana gitu tapi gue tepis, untuk sementara ini…
TURUN KE HATI
Aku pikir dia sama, ternyata berbeda. Perkenalan lebih
lanjut membuatku menyadari bahwa wanita tidak semuanya sama. Mereka memang
menyukai perhiasan, barang-barang bermerek, dan sebagainya. Tapi wanita yang
beberapa baru bulan ini kukenal berbeda. Dia menghargai apa yang aku sukai, dan
terlebih dia polos. Dia tidak ragu mengungkapkan apa yang ada di pikirannya dan
wajahnya yang menggambarkan beragam ekspresi menjadikan daya tarik sendiri.
Aku lama sendiri bukan berarti aku tidak mengamati wanita yang hilir mudik
hadir dan yang ini sangat membuatku kepikiran. Awalnya aku pikir hanya teman, tapi
aku sendiri menginginkan lebih, meski pikiranku berlawanan. Tapi aku selalu
ingat pepatah lama bahwa ketika mencintai seseorang gunakan hati, bukan
pikiran. Jadi, aku hanya perlu dua langkah untuk meyakinkan bahwa dia memang yang
tepat untukku.
***
Mata sayunya menahan air mata dan semburat kemerah-merahan
muncul di pipinya. Dia ingin menangis tapi tidak mau ia tumpahkan.
“Lo sudah pikirin baik??” Aku tahu amarahnya sedang
bersembunyi dari kalimat tadi.
“Aku sudah mantap, Py. Kamu mau kan membantunya mengurus
persiapan?” Dia mengangguk lemah. Bulir-bulir air mata itu jatuh meski tidak
terlalu nampak.
“Kamu kenapa menangis?” Tanyanku khawatir . Aku merasa
bersalah. Terlebih membuatnya menangis. Bagiku, wanita menangis adalah hal yang
paling rumit dan aku tidak suka. Dan sekarang aku melanggarnya.
Disekanya air
matanya, “Nggak… gue bahagia aja liat lo… . Jadi, kapan gue bisa bantu?”
***
MELEPASNYA
Gue melepas semua pakaian dan berendam di dalam bathtub.
Pikiran gue langsung melayang. Teringat lagi kilas balik peristiwa tadi dan
membuat pikiran gue langsung berkecamuk. Gue masih nggak ngeh sama
apa yang terjadi tadi. Gue pikir dia awalnya hanya bercanda, tapi ternyata
nggak. Bahkan dia memperlihatkan foto wanita tersebut. cantik dan gue nggak ada apa-apanya dibandingin sama dia. Biarpun gue bukan tipenya, tapi apa salah gue berharap lebih?
Apa ini ya… yang namanya harapan palsu?
***
Semenjak hari itu, gue seperti orang linglung. Untung aja
bos gue nggak merhatiin. Kalau ditegur, bisa repot urusannya. Asal lo tau, untuk melupakan
mantan yang gue cintai setengah mati nggak sampai begini. Tapi dengan Mesan, hidup gue jadi berubah. Sekembalinya di
apartemen, gue kembali merenung. Merenung apa salah gue. Gue hidupkan Spicer
dan membuka galeri foto. Banyak sekali foto antara gue dan Mesan, dan gue sadar
kalau jumlahnya melebihi foto-foto gue yang lain.
Melihat foto-foto tersebut satu persatu, gue mengingat
kembali masa-masa itu dan gue sadar, gue memang mengharap lebih. Gue berharap bisa
bersamanya terus, dalam sebuah ikatan. Ya, sejak gue kenal dia gue sadar impian
gue sekarang adalah memiliki keluarga sendiri. Tiba-tiba, ide yang irasional muncul di kepala gue. Gue tahu banyak yang melakukan ini, tapi tetap
saja hal ini masih nyeleneh.
***
Dari tadi gue ketok-ketok pintu apartemennya nggak
dibuka-buka. Di-bel juga nggak ada sambutan. Dia bilang minta ketemuan di
apartemen aja karena ada urusan kantor yang harus dia kerjakan. Gue mengiyakan.
Tapi dari tadi gue nggak ada lihat
batang hidungnya, bahkan bau parfum yang selalu ia gunakan pun nggak pula
tercium. Jujur, gue suka parfum yang dia gunakan. Bahkan saat dia tidak
menggunakannya gue masih bisa mencium bau harum badannya. Bukan porno, tapi
jarang banget gue ketemu cowok yang harum apalagi harum alami.
Hape gue berbunyi ada sms masuk. Ternyata dari Mesan. Dia
minta naik ke rooftop karena dia mengerjakannya tugas kantornya disana. Kenapa
nggak bilang dari tadi coba?! Ngapain juga ngerjain tugas kantor di rooftop?!
Kurang kerjaan! Rutuk gue di dalam lift. Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam, dan gue sudah nggak sabar. Pokoknya, nanti gue bakal langsung bilang perasaan gue terhadap
dia. Terserah dia mau terima apa nggak. Pintu lift terbuka dan gue segera
mencari pintu rooftop. Ternyata pintunya susah sekali dibuka. Mungkin
karena gue sudah capek karena kerjaan di kantor tadi. Setelah terbuka lebar, gue melihat arah
panah tertempel di lantai rooftop. Firasat aneh gue muncul dan tiba-tiba,
kaki gue melangkah dengan sendirinya mengikuti arah panah tersebut.
Panah itu hilang dan berganti dengan meja dan diatasnya ada setangkai
bunga tulip kesukaan gue dan berbagai hidangan kesukaan gue. Di sekeliling rooftop dipasang lampu
yang berkelap-kelip warna keemasan dan taburan bunga mawar di lantai. Pemandangan
kota Jakarta di malam hari adalah salah
satu favorit gue, dan malam ini termasuk yang paling indah. Gue menghampiri meja tersebut dan melihat Spice, nama yang gue berikan untuk Aspire P3 milik Mesan. Gue celingukan, tapi nggak ada orang
selain gue. Tapi sekali lagi tangan gue bergerak. Gue swab layarnya, ada sebuah video. Gue putar dan…
“Maaf ya, kalau saya keterlaluan,” Itu kalimat terakhir
Mesan ucapkan didalam video tersebut. Gue pun menangis. Entah menangis terharu,
senang, atau kesal. Gue pun merasakan ada seseorang di belakang dan gue melihat
Mesan berdiri tegap, tersenyum dengan kotak hitam kecil yang digenggam di
tangan kanannya. Tangisan gue malah makin deras dan dia memeluk gue. Erat
banget. Nggak ada kata-kata yang terucap, tapi gue sudah tahu apa jawabannya.
UNTUK MENDAPATKANNYA KEMBALI
Pernikahan kami terbilang cepat. Persiapannya hanya tiga
bulan. Sudah pasti kami sibuk membagi waktu ditengah jam-jam kerja kami. Aku memang nggak mau
lama-lama untuk meresmikan hubungan kami dan dia tidak masalah. Kalau sudah
yakin kenapa tidak dilaksanakan? Saat resepsi nanti, kami berencana membuat sebuah mini film
tentang kami . Inspirasi tentu saja dari
kisah Vernon.
Tahu tidak Vernon? Dia itu asisten seorang DJ terkenal. Kalau impian
kami sekarang adalah menikah, dia ingin menjadi DJ terkenal. Di suatu acara, dia memainkan
musiknya yang berbentuk virtual dengan Acer Aspire P3 . Untuk sesaat dia merasa seorang DJ, tapi khayalan itu hilang saat sang produser acara
menyuruhnya kembali kerja. Awalnya acara ini berjalan mulus, tapi karena sang DJ hilang sesaat di kerumunan penonton, jadi tidak ada yang memainkan musiknya. Tentu saja ini bisa berdampak buruk pada
acara tersebut, Vernon pun nekat untuk menggantikan sang DJ. Produser acara pun
tidak bisa menghalanginya. Ternyata, semua yang hadir di acara tersebut menikmati musiknya. Sang DJ kembali, dan
mereka pun duet bersama.
Aku pribadi suka sekali dengan iklan ini. Melalui iklan ini aku bisa bertemu dengan gadget yang membawaku pada calon istriku. Memang terdengar melankolis, tapi Tuhan selalu punya cara untuk mempertemukan dua insan dan kami adalah buktinya. Mini film yang akan kami ini bersifat rahasia
karena hanya kami dan beberapa orang yang bersangkutan yang tahu. Untung saja ada Spice dan Spicer,
si Aspire P3 yang selalu memberikan kemudahan sehingga mini film tersebut bisa selesai. Besar sekali jasa mereka dalam
kehidupan kami.
***
Akad nikah berjalan lancar dan syahdu. Kami resmi menikah
dan tidak ada kata yang tepat untuk menggambarkan perasaan kami saat itu. Saat
resepsi, kami pun melancarkan rencana kami. Lampu diredupkan tapi tidak sampai
gelap, tirai merah dibuka dan layar putih terlihat. Para tamu undangan dan
keluarga pun kaget. Semuanya
bertanya-tanya dan memberikan perhatian penuh pada layar putih tersebut.
Gambar-gambar itu bergerak seperti flipbook, bercerita tentang Spice dan Spicer yang bertemu kemudian jatuh cinta.
Kemudian berganti dengan film yang kami bintangi, sutradarai, dan mengedit
sendiri. Bermula dari awal pertemuan kami dan juga candid baik tentang
aku atau Thropy. Selesai video tersebut diputar, lampu kembali menjadi
terang dan tepuk tangan yang serempak bergema di dalam ruangan. Mereka memintanya memutarkannya
kembali, tapi kami menolak karena terbatasnya waktu. Hari itu pun menjadi hari yang bersejarah dalam hidup kami. Terima kasih Tuhan dan terima kasih untuk Aspire P3.
THE END

Comments
Post a Comment