BERDUKA
Deg. Tiba – tiba dadaku terasa perih. Seperti ada
yang meninjunya dengan keras. Kutarik napas dalam – dalam beberapa kali tapi
hanya menyisakan hampa. Kini aku kembali berduka. Berduka karena pilihanku
sendiri. Pikiranku melayang jauh dan berhenti di tanggal 7 Desember 2002. Ah,
sudah lebih dari satu dekade aku berduka. Jika mengingat masa itu, aku seperti
mayat hidup. Tapi aku tak punya pilihan. Karena aku sudah memutuskan dan Tuhan
telah menakdirkannya.
Sore itu, rumput bergoyang manja sambil sesekali
menjatuhkan embun agar ia bisa kembali tegak akibat hujan yang turun cukup
deras. Jalan raya semakin padat dan suasana yang dingin itu semakin membuat
orang – orang menjadi tidak sabaran dan menerobos begitu saja ketika ada celah.
Semakin terlihatlah sikap individualis bangsa ini. Bangsa yang diagung –
agungkan keramahtamahannya. Benarkah? Bagiku itu hanyalah cap untuk menarik
wisatawan atau apalah agar devisa negara ini bertambah.
Tapi aku tidak peduli. Walaupun biasanya aku peduli,
tapi kali ini aku benar – benar acuh. Bisa jadi aku termasuk orang – orang yang
individualis itu. Tapi apa peduliku dengan mereka? Mengatur lalu lintas? Sudah
ada lalintas dan polisi jadi kupikir cukup jadi penonton saja. Lagipula peduli
atau tidak bagiku itu harus pada tempatnya.
Aku hanya diam seribu kata dan sesekali melihat ke
luar jendela basah yang mengaburkan pemandangan dibaliknya. Kadang aku kaget,
ah berpura – pura kaget untuk memancing reaksi laki – laki yang ada di depanku.
Tapi dia hanya duduk termangu di depanku.
Aku tidak tahan “Berat memang rasanya, tapi kita
sama – sama tahu kalau ini tidak mungkin berhasil” Kalau saja waktu bisa
kuputar sudah pasti aku akan menjedotkan kepalaku sendiri ke meja atau jendela.
“Aku tidak tahan jika seperti ini terus,” ada jeda
lama dan dia memandangku sekilas dan kembali lagi memusatkan perhatiannya pada
hal lain walau kutahu dia sama sepertiku. Mempertahankan orang yang tidak ingin
dipertahankan sangat tidak mudah.
Aku putus asa dengan takdir, belahan jiwa, atau
semacamnya walaupun sejujurnya aku masih berharap. Tapi aku tidak berani
melihat masa depan. Aku tidak seberani dirinya yang selalu yakin tentangku. Aku
tidak berani menangkap kebahagiaan itu karena kupikir itu hanyalah semu dan
akan menambah masalahku sendiri.
“Aku tidak bisa berbuat apa – apa lagi. Aku harap
kau bahagia dengan pilihanmu,”
Tidak! Aku tidak pernah bahagia dengan pilihanku!
Kalau memang aku bahagia, mengapa sekarang aku tidak bisa melepasmu? Hanya bisa
diam – diam mengikatmu dalam hati. Menjadi bayanganmu yang bahkan terlalu semu
untuk kau lihat sendiri. Aku tahu aku bodoh. Tapi melepasmu adalah hal yang terlampau bodoh. Bisa jadi aku gila.
Tapi aku berusaha terlihat normal. Ingin sekali rasanya aku menyalahimu dan
mengorek – ngorek kesalahanmu tapi yang kudapati adalah hatiku yang terlalu
beku dan meleleh saat semuanya terlambat.
Memulainya dari awal lagi? Maaf, aku tak bisa. Aku
tidak mau menjadi perusak rumah tangga orang apalagi dirimu. Bisa kubayangkan
jika rumah tanggaku yang membahagiakan dengan dua orang anak yang menggemaskan
dirusak oleh seseorang yang mengemis masa lalu.
Tidak, aku tidak mau. Biarlah aku mengemis tapi
tidak padamu. Meski aku ingin tapi aku tidak bisa. Aku telah
memilih dan begitu pula dirimu.
Comments
Post a Comment