Cerita Sebuah Daun

Siapa yang tidak mengenalku? 
Bahkan orang yang tidak bisa melihat, tidak bisa mendengar, bahkan gila sekali pun tahu tentangku.
Bentukku bermacam-macam. Tubuhku berwarna-warni pula. Aku ada di belahan bumi mana pun dan aku ada sejak jutaan tahun yang lalu.

Tapi kali ini aku tidak bercerita tentang sejarah hidupku. Aku akan memberitahumu sesuatu...

                                                                           dropfamous
Aku tinggal di pinggir sungai. Rumahku berupa pohon bewarna coklat dengan diameter yang sangat lebar. lingkaran rumahku menunjukkan bahwa rumahku sudah sangat tua, tapi masih kokoh berpijak diatas tanahnya. Akar-akarnya yang besar mencengkeram tanah dan menembus apa yang ada di dalam bumi. Makanya rumahku masih tetap berdiri sampai sekarang.

Aku tidak tinggal sendiri. Aku dikelilingi oleh keluarga, kerabat, dan teman-temanku. Kami tidak pernah bertengkar. Kami selalu sejalan dalam berbagai hal. Hanya saja, setiap dari kami akan tiba saat dimana kami harus gugur dan tidak kembali...

Aku sangat bersyukur memiliki rumah di pinggir sungai. Sungai ini masih jernih. Di seberangnya ada jalan raya dimana kendaraan-kendaraan lalu lalang. Meski begitu, hal tersebut tidak menggangguku sama sekali. Setiap hari aku selalu memandangi ikan-ikan yang menari kesana-kemari. Saat hujan, aku bermain embun bersama-sama temanku. Saat matahari sedang cerah maka akan ada 'makan besar' di rumahku. Aku selalu menikmati hari-hariku sampai suatu saat dia datang...

Aku tertarik padanya sejak pertama kali ia singgah di rumahku. Ia masih sangat lucu dan belum bisa bicara. Setiap hari ia mengetuk rumahku dan berusaha memanjat ranting tapi selalu jatuh. Tidak ada seorang teman yang menemaninya kecuali orang tua atau neneknya yang sesekali menemaninya bermain. Sudah tidak terhitung ia tercebur ke dalam sungai. Tapi ia tetap saja bermain disana. Aku rasa anak ini keras kepala...

Dari hari ke hari anak ini tumbuh dan berkembang. Kini ia tidak sendiri lagi. Sesekali ia membawa teman-temannya yang berseragam sama dengannya untuk bermain di rumahku. Kadang mereka bermain bola kaki, kadang bermain baseball, dan tidak jarang mereka tertidur di pinggir sungai. Saat anak ini sendiri, ia lebih sering berebah dengan tangan kiri yang disandarkan dibawah kepala dan membaca. Ia sanggup membaca berjam-jam hingga terlelap. Tapi tidak jarang ia menatap langit dengan mata hazel-nya seolah-olah ia bisa menebak apa yang ada dibalik langit.

Suatu hari ia membawa seorang perempuan. Awalnya aku tidak terlalu peduli, tapi kemudian ia menciumnya! Aku tidak mengerti kenapa ia mencium gadis itu tapi Ibuku bilang bahwa ciuman itu merupakan wujud sebuah rasa yang bernama 'cinta'. Lalu kemudian ibuku berkata bahwa cinta tidak akan bertahan selama tidak ada kasih sayang dihati masing-masing. Aku tidak mengerti. Yang kulihat mereka saling menatap dalam waktu yang lama dan tersenyum yang terlihat bahagia. Aku jadi ingin merasakan cinta...

Sejak hari itu, aku tidak melihatnya. Bahkan hingga beberapa tahun lamanya. Jujur saja aku merasa kehilangan. Kehadirannya membuatku terhibur hingga suatu saat ia kembali datang dengan seorang lelaki dan seorang anak perempuan yang masih kecil. Mirip sekali dengannya. Mereka tampak bahagia. Tapi, aku melihat sekilas sinar bola matanya yang meredup...

Beberapa hari kemudian, ia datang tanpa ditemani siapapun. Ia duduk sambil menekuk kedua lutunya. tubuhnya bergetar. Aku bisa mendengar isakannya yang makin lama makin jelas terdengar. Ingin sekali aku memeluk dan menenangkan dirinya. Tapi aku hanyalah sebuah daun...

Kemudian pria itu datang. Ia murka. Mereka bertengkar hebat. Terlalu banyak cacian yang keluar dari bibirnya yang merah. Tetapi pria tersebut bersikeras memeluknya. Ia meronta tapi pelukan pria itu terlalu kuat hingga akhirnya ia menyerah. Mereka berdua terdiam. Hanya ada suara angin yang berhembus pelan dan isakannya.

Pria itu membelai rambutnya dengan pelan dan berkata, "Aku tidak peduli masa lalumu seperti apa. Yang aku pedulikan adalah dirimu yang sekarang. Kamu adalah kamu dan aku masih disini untuk bisa terus membahagiakanmu. Kumohon, kembalilah..."

Ia hanya menangis dan menangis... Yah, kamu bisa menebak sendiri akhir ceritanya seperti apa. Tapi, pada akhirnya aku mengerti apa itu kasih sayang. Kasih sayang tidak butuh alasan. Hanya dengan cara yang tidak biasa kamu bisa menunjukkannya hingga tiba saatnya bahwa cinta itu adalah 'kasih sayang'.

Sayang sekali aku tidak bisa melihatnya lagi karena waktuku telah tiba. Tapi aku bersyukur karena aku bisa melihat bagaimana skenario Tuhan berjalan dengan sempurna.

Setiap hal yang ada di dunia ini memiliki masa dan sebelum masa itu tiba, akan lebih indah pabila kau melihat apa yang mereka sebut 'kebahagiaan sejati'. Dan aku adalah saksi 'kebahagiaan sejati' tersebut.

Comments

Popular posts from this blog

Masih adakah Peduli itu?