Perjuangan Sebuah Es Krim

Es Krim?
Siapa yang tidak suka es krim?
Rasanya yang lezat dan sensasinya yang menakjubkan membuat dari anak kecil dan orang dewasa menyukainya.
Tapi, setiap es krim yang dimakan memuat kisahnya sendiri.
Ini adalah cerita salah satu es krim yang kutemui hari ini. . . . .



Siang ini cerah (dibaca: panas yang menyengat) sekali. Jarang sekali kotaku ini berhawa sejuk. Seperti biasa, aku dan teman-temanku pulang sekolah. Kebetulan hari ini hari sabtu, jadi terbayang-bayang rencana-rencana untuk hari minggu. 

Seperti biasa aku menyeberang. Kebetulan, belum ada angkot (angkotan kota) yang lewat. Jadi, aku menunggu sambil menyeka keringatku yang bercucuran deras. Lalu aku melihat seorang bapak-bapak yang perkiraan umurnya sekitar 40-tahunan ke atas sedang mendorong gerobak es krimnya di pinggir jalan.

Karena jalannya yang menanjak, jadi kebayang sih beratnya seperti apa di tengah panas matahari ini. Kulitnya hitam legam karena sering berjemur. Dia menatapku. Karena perasaan apa, aku membelinya. Kemudian dia melayani pesananku. Aku pesan dengan cone (kalo gak salah). Dulu harganya seribu, tapi sekarang dua ribu. Waktu kulihat persediaan esnya, ternyata gak sampe seperempat  esnya terserok. Berarti, yang beli baru sedikit. Padahal ini sudah jam dua belas. Lalu dia memberikanku es pesananku dan kuucapkan terima kasih. Beliau membalasnya dengan kata ‘sama-sama’. Kemudian aku menyetop angkot dan segera naik.

Aku tidak tahu harus menulis apa lagi. Yang jelas aku merasa kasihan. Aku ngebayangin . suatu saat aku seperti dia. Iya kalau aku hidup sendiri, kalau ada keluarga yang harus aku tanggung?. Berjuang mendorong es krim setiap hari dengan pendapatan gak pasti, belum lagi dengan saingan perusahaan besar yang memiliki modal besar.

Hidup itu full with competition. Seperti penjual es krim kecil yang mendorong gerobak esnya setiap harinya susah payah demi mendapatkan rupiah. Tapi. . . . . . kebanyakan orang gak sadar akan hal itu karena ada materi yang menyelimutinya yaitu, kenikmatan dunia.

Comments

Popular posts from this blog

Masih adakah Peduli itu?